KEPUTIHAN ( Fluor Albus )

22.09

TUGAS BAHASA INDONESIA
ESAI AKADEMIK TENTANG KESEHATAN
“ KEPUTIHAN “

Dosen Pengampu : Ns. Nana Rochana, S.Kep, MN

Disusun Oleh :

Nama
:
Yohana Esti Purwaningsih
NIM
:
22020114120054
Kelas
:
A.14.2





ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2014


KEPUTIHAN ( Fluor Albus )


            Dalam kehidupan sehari hari, tidak sedikit orang yang menyepelekan permasalahan yang mereka anggap memiliki beban yang kecil. Padahal dari permasalahan kecil itulah yang mengakibatkan timbulnya permasalahan besar. Kondisi ini juga terjadi dalam bidang kesehatan. Sebagian orang menganggap apa yang mereka lakukan adalah hal yang sudah benar. Ada pula yang mulai menyadari kondisi kesehatannya yang tidak terlalu baik namun meyakinkan diri sendiri ( sugesti ) bahwa dirinya sehat dan tidak terdapat permasalahan apapun. Tanpa adanya kepedulian untuk lebih mengetahui dan memahami kondisi pribadi dan bagaimana pola hidup sehat. Sugesti positif memang baik, namun akan lebih baik dan tepat apabila orang yang memiliki kondisi tersebut peduli terhadap dirinya. Ironi nya, kepedulian ini justru muncul ketika mereka telah mengetahui atau mengalami suatu permasalahan kesehatan yang cukup besar. Ketika mereka menyadari adanya penyakit yang cukup serius, mulailah pola hidup sehat diterapkan dengan gencar dan rutin. Padahal untuk mengobati suatu penyakit lebih susah daripada mencegah penyakit itu bersarang pada tubuh kita.  Membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit.  Salah satu permasalahan kecil yang disepelekan oleh beberapa orang khususnya kaum wanita adalah permasalahan keputihan.

Apa itu keputihan ?. Ada beberapa definisi mengenai keputihan.  
Ø  Keputihan atau flour albus adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau lendir yang menyerupai nanah yang disebabkan oleh kuman. Terkadang, keputihan dapat menimbulkan rasa gatal, bau tidak enak, dan berwarna hijau  (Dagasou, Pondaag, & Lolong, 2014).
Ø  Keputihan merupakan semua pengeluaran cairan alat genetalia yang tidak berupa darah. Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan (Sari & Amalia, 2013).
Ø  Keputihan adalah keluarnya cairan berlebihan dari vagina yang terkadang disertai rasa gatal, nyeri, rasa panas dibibir kemaluan, kerap disertai bau busuk, dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu buang air kecil (Nanlessy, Hutagaol, & Djon Wongkar, 2013).

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan secara umum mengenai keputihan. Keputihan memang bukan suatu penyakit. Keputihan atau Fluor Albus adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina oleh karena adanya kuman dan terkadang menimbulkan beberapa efek. Efek itu adalah dapat menimbulkan rasa gatal, bau tidak enak, dan berwarna hijau terkadang terasa nyeri, rasa panas dibibir kemaluan. Keputihan adalah indikasi dari penyakit sistem reproduksi.
Beberapa kaum wanita menganggap keputihan adalah hal biasa yang terjadi pada wanita yang telah mengalami menstruasi. Tetapi, dalam kenyataannya keputihan dapat menjadi permasalahan yang cukup besar bahkan hingga menyebabkan kematian. Beberapa dampak yang diakibatkan dari keputihan yaitu
1.      Kemandulan
2.      Kanker leher rahim

Keputihan terbagi menjadi dua macam yaitu keputihan fisiologis ( normal ) dan keputihan patologis ( abnormal ). Keputihan fisiologis ( normal ) adalah keputihan yang wajar dialami oleh seorang wanita yang terkadang terjadi menjelang atau sesudah menstruasi. Keputihan fisiologis disebabkan karena adanya stress baik fisik maupun psikologis dan juga akibat kelelalahan. Ciri – ciri dari keputihan fisiologis adalah vagina akan menghasilkan cairan dalam jumlahnya relatif sedikit, bau tidak ada pada cairan tersebut, keputihan fisiologis tidak menimbulkan rasa panas ataupun nyeri, dan cairan yang keputihan tidak berwarna. Keputihan fisiologis akan terhenti dengan sendirinya ketika orang tersebut tidak mengalami stress ataupun kelelahan serta melakukan pengobatan (Nanlessy et al., 2013).

Sedangkan keputihan patologis  ( abnormal ) adalah keputihan yang tidak wajar dialami seorang wanita yang terjadi secara terus menerus. Keputihan patologis disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer ( utama ) penyebab keputihan patologis adalah jamur, kuman, parasit dan virus. Sedangkan, faktor sekunder keputihan patologis disebabkan karena kurangnya perawatan terhadap alat genitalia. Salah satu bentuk kurangnya perawatan terhadap alat genitalia adalah  pemilihan bahan celana dalam yang dipakai tidak dapat menyerap keringat, celana dalam jarang diganti, pembalut tidak sering diganti, terlalu banyak dalam pemakaian pembilas, genangan air pada ember digunakan untuk mencuci vagina. Selain itu juga dapat disebabkan oleh kurangnya sosialisasi secara merata pada kaum perempuan mengenai pentingnya menjaga kebersihan alat geitalianya. Ciri – ciri dari keputihan patologis adalah cairan yang dihasilkan oleh vagina adalah dalam jumlah yang tidak sedikit, cairan menghasilkan bau ( apek, amis ). Adanya keluhan  ( seperti gatal, panas, nyeri)  warna pada cairan tersebut mengalami perubahan ( misalnya menyerupai susu/yoghurt, abu-abu, hijau, kuning disertai adanya keluhan  ( seperti gatal, panas, nyeri). Keputihan patologis akan terhenti apabila orang tersebut melakukan perawatan alat genitalia dengan baik (Nanlessy et al., 2013).

Keputihan ( fluor albus ) dapat dicegah dengan menjaga kebersihan alat genitalia. Ada beberapa cara untuk menjaga kebersihan sebagai bentuk perawatan terhadap alat genitalia, yaitu :
1.      Mencuci vagina dengan air yang bersih. Air yang bersih meminimalisir adanya bakteri.
2.      Mencuci tangan pada saat membersihkan vagina.
3.      Memakai pembilas secukupnya. Hal ini dapat mencegah bahan kimia dalam pembilas tidak tertinggal pada celana dalam.
4.      Menggunakan celana yang menyerap keringat. Ini dilakukan agar daerah sekitar vagina tidak lembab. Daerah yang lembab dapat menjadi penyebab munculnya jamur.
5.      Sering mengganti celana dalam. Agar celana dalam yang digunakan tetap bersih setelah menggunakan celana dalam tersebut dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan berbagai kegiatan.
6.      Sering mengganti pembalut. Menjaga kelembaban pada daerah sekitar vagina.
7.      Melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan alat genitalia.
Cara – cara tersebut hanya sebagian contoh yang dapat dilakukan dalam perawatan alat genitalia. Masih banyak cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan atau perawatan alat genitalia.

            Selain tindakan preventif di atas, adapula tindakan kuratif yang dapat dilakukan ketika seseorang telah mengalami keputihan. Secara umum, tindakan kuratif itu adalah mengikuti bentuk pengobatan yang dia pilih. Baik itu pengobatan oleh tenaga medis secara modern ataupun pengobatan tradisional. Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes. Kemenkes. R.I. telah menemukan suatu ramuan dari Nusat Tenggara Barat untuk mengatasi permasalahan tentang sistem reproduksi. Permasalahan yang dapat diatasi termasuk juga mengenai keputihan. Berikut adalah data jenis tanaman dan cara penggunaannya.
 Ramuan Tradisional untuk Obat Keputihan di Nusa Tenggara Barat
No.
Nama Tanaman
( Daerah dan Latin )
Bagian Tanaman
Banyak bahan
Bentuk bahan
Cara olah
Cara pakai
Frekuensi penggunaan
Lama penggunaan
1.
Majaan(Queruslusitanica Lamk)
Buah
Secukupnya
Kering, segar
Haluskan, rebus
Minum
2x/hari
Sampai sembuh

Delima putih (Punica granatum L)
Buah

Kunyit (Curcuma domestica Val)
Rhizom

Kencur (Caempferia galanga L)
Rhizom

Kelapa (Cocos nucifera L)
Gula
2.
Asam jawa (Tamarindus indica L)
Buah
Secukupnya
Masak
Seduh
Minum
1x/hari
3 hari
(Nugroho, n.d.)

Selain itu terdapat cara modern pengobatan keputihan yang tak jarang dipakai oleh beberapa kaum wanita. Pengobatan untuk keputihan fisiologis dapat dilakukan dengan pemberian antiseptik vagina pada saat membersihkan alat genitalia. Sedangkan pengobatan untuk keputihan patologis adalah dengan pemberian anti infeksi. Salah satunya adalah Policresulen vaginal suppositoria. Beberapa manfaat dari obat Policresulen vaginal suppositoria adalah
a.       Bekerja hanya pada jaringan yang rusak
b.      Tidak mempengaruhi epitel skuamosa yang sehat.
c.       Mematikan flora patogen dalam vagina
d.      Mempertahankan flora normal
e.       Memulihkan keasaman fisiologis dari vagina
(Sari & Amalia, 2013)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keputihan adalah suatu keadaan dimana vagina mengeluarkan cairan yang berlebihan pada kaum wanita yang telah mengalami menstruasi. Keputihan sering terjadi sebelum atau sesudah menstruasi dan merupakan hal yang wajar. Meskipun keputihan bukanlah penyakit namun keputihan tidak dapat disepelekan. Kaum wanita harus mengenali ciri ciri keputihan itu sendiri. Secara umum, kaum wanita hanya mengenali keputihan secara fisiologis. Padahal keputihan terbagi menjadi 2 yaitu keputihan fisiologis ( normal ) dan keputihan patologis ( abnormal ). Keputihan patologis inilah yang berbahaya karena dapat menyebabkan kemandulan, kanker leher rahim hingga kematian. Melakukan perawatan terhadap alat genitalia, adalah salah satu bentuk kepedulian serta pencegahan terhadap keputihan. Apabila keputihan telah terjadi maka akan lebih baik melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Kaum wanita tidak perlu malu untuk memeriksa kesehatan alat genitalianya apabila terjadi permasalahan. Karena itu jauh lebih baik dan disarankan daripada membiarkannya dan berdampak pada resiko yang cukup berat. Jangan menyepelekan keputihan dan tetap menjaga kebersihan alat genitalia.





DAFTAR PUSTAKA
Dagasou, S. E., Pondaag, L., & Lolong, J. (2014). Gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang keputihan di poliklinik obstetri/ginekologi rsu.pancaran kasih gmi manado tahun 2014, 36.
Nanlessy, D. M., Hutagaol, E., & Djon Wongkar. (2013). Hubungan antara pengetahuan dan perilaku remaja puteri dalam menjaga kebersihan alat genitalia dengan kejadian keputihan di sma negeri 2 pineleng, 1, 1–5.
Nugroho, S. Y. A. (n.d.). Ramuan obat tradisional di sumatera barat dan nusa tenggara barat untuk keluhan pada sistem reproduksi, 22(September 2011), 144–151.
Sari, R., & Amalia, A. (2013). Efektifitas policresulen vaginal suppositoria terhadap keputihan pada wanita usia subur di desa latukan rt 3/rw 1 kecamatan karanggeneng lamongan, 02(Xv), 21–25.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images