PENGOBATAN AMANDEL ( obat herbal vs tonsilektomi )

05.38

TUGAS BAHASA INDONESIA
REVIEW LITERATUR
“ PENGOBATAN AMANDEL ( obat herbal vs tonsilektomi ) “

Dosen Pengampu : Ns. Nana Rochana, S.Kep, MN

Disusun Oleh :

Nama
:
Yohana Esti Purwaningsih
NIM
:
22020114120054
Kelas
:
A.14.2




ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2014


PENGOBATAN AMANDEL
obat herbal vs tonsilektomi )

      Pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi di berbagai bidang telah mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa penemuan dan inovasi teknologi canggih yang digunakan untuk mempermudah manusia dalam mencapai suatu tujuan. Misalnya dalam bidang komunikasi. Dahulu orang memberi kabar melalui surat namun sekarang telah menggunakan handphone. Handphone ini bahkan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk menghasilkan inovasi handphone yang lebih canggih. Penemuan dan inovasi teknologi juga berkembang pesat pada bidang kesehatan. Adanya penyakit – penyakit baru yang bermunculan, memacu para medis untuk menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Untuk menemukan obat tersebut, kini para medis telah difasilitasi berbagai teknologi yang canggih. Bukan hanya untuk mempermudah menemukan obat baru, beberapa teknologi kesehatan ditujukan langsung kepada pasien untuk memberikan pelayanan terbaik. Pelayanan terbaik dan fasilitas teknologi yang canggih ini tidak mengacu pada seberapa parah kondisi pasien. Setiap pasien berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan yang sama sesuai dengan kebutuhannya. Pelayanan kesehatan juga bergantung pada orang yang dituju. Seseorang terkadang menyepelekan suatu penyakit meskipun telah mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan. 

      Umumnya seseorang menyepelekan penyakit tersebut karena beranggapan bahwa itu merupakan hal yang biasa dan kelak akan sembuh dengan sendirinya. Namun justru dari hal yang sepele kemudian dibiarkan itulah yang berpotensi memberikan dampak yang cukup serius pada kesehatan seseorang. Contohnya adalah penyakit tonsilitis atau yang umum dikenal dengan penyakit amandel atau tonsilitis.. Tonsilitis secara umum diartikan sebagai sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila platina yang menetap. Tonsilitis adalah infeksi akut, rekuren atau kronik pada tonsil atau faringotonsil, yang disebabkan oleh berbagai virus seperti Streptoccocus Beta Hemolitikus, Streptoccocus Viridans, Streptoccocus Pyogene, Virus Influenza, Sitomegalovirus, Adenovirus dan oleh bakteri utama yaitu Bakteri Streptoccocus Golongan A Beta Hemolitik (1)

      Tonsilitis dibedakan menjadi 2 jenis yaitu tonsilitis akut dan tonsilitis kronik. Perbedaan tonsilitis akut dan tonsilitis kronik adalah sebagai berikut. Pada tonsilitis akut yaitu onset cepat, terjadi dalam beberapa hari, hingga beberapa mingguPenyebab tonsilitis akut adalah kuman streptokokus beta hemolitikus grup A, pneumokokus, streptokokus viridian, dan streptokokus piogenes. Tonsil hiperemis & edema, dan kripte tidak melebar serta detritus + / - . Sedangkan pada tonsil kronik yaitu onset lama, beberapa bulan hingga beberapa tahun (menahun)Penyebab tonsillitis kronik sama halnya dengan tonsillitis akut, namun kadang-kadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan gram negatif. Tonsil membesar / mengecil tidak edeman dan kripte melebar serta detritus + (2). Tonsil atau amandel merupakan salah satu organ yang berfungsi dalam sistem imunitas tubuh. Fungsi cincin waldeyer pada tonsil adalah sebagai benteng bagi saluran makanan maupun saluran napas terhadap serangan kuman-kuman yang ikut masuk bersama makanan/ minuman dan udara pernapasan. Selain itu, anggota-anggota cincin waldeyer ini dapat menghasilkan antibodi dan limfosit (3). Namun, adanya serangan dari virus dan bakteri dapat membuat tonsil menjadi infeksi atau radang. Ketika radang inilah tonsil tidak dapat menjalankan tugasnya untuk melindungi tubuh dan justru dapat mengganggu kondisi kekebalan tubuh dan aktivitas tubuh. Gangguan radang tonsil lebih ditekankan pada tonsilitis kronik. Hal ini dikarenakan tonsilitis kronik merupakan tahap lanjutan dari tonsilitis akut yang tidak diatasi dengan baik. Sehingga dampak tonsilitis lebih terasa pada tonsilitis kronik.

      Beberapa contohnya adalah sebagai berikut. Tubuh akan sensitif dan mudah mengalami demam. Mudah kelelahan jika melakukan aktivitas yang sedikit padat. Durasi tidur lebih lama karena mudah untuk mengantuk padahal sudah tidur / istirahat cukup secara normal (4). Jika peradangan telah mencapai kronik dan cukup parah dapat menimbulkan dampak yang cukup parah yaitu menutupnya jalan pernapasan dan pencernaan. Menutupnya jalan tersebut akan menyebabkan terganggunya beberapa fungsi tubuh atau komplikasi. Komplikasi sekitar tonsil adalah peritonsilitis , abses peritonsilar (quinsy), abses parafaringeal, abses retrofaring, krista tonsil, tonsilolith (kalkulus dari tonsil). Sedangkan komplikasi ke organ jauh adalah demam rematik dan penyakit jantung rematik, glomerulonefritis, episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura, artritis dan fibrositis. Untuk itulah, dilakukan penelitian untuk mengobati penyakit tonsilitis ini. Pengobatan tonsilitis sendiri dapat dilakukan dengan 2 cara. Pertama adalah pengobatan konvesional, dengan mengkonsumsi obat herbal. Kedua adalah pengobatan modern, dengan melakukan operasi tonsilektomi ( pengangkatan toksin ).

     

     Pengobatan secara konvensional, mengkonsumsi obat herbal. Obat herbal adalah obat yang bersifat organik atau alami. Obat ini berasal dari tanaman yang memiliki manfaat . Tanaman tanaman ini diteliti dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan obat alami yang dapat menyembuhkan suatu penyakit. Bukan hanya penyakit yang ringan saja namun tanaman herbal juga dapat menyembuhkan penyakit yang terbilang parah. Berkaitan dengan  tonsilitis atau radang amandel, telah ditemukan dan diteliti beberapa tanaman yang berkhasiat dalam pengobatan penyakit tonsilitis tersebut. 

      Pertama, menggunakan kunyit. Prosedurnya adalah sebagai berikut : parut 1 ibu jari kunyit, peras 1 buah jeruk nipis, lalu campur dengan 2 sendok makan madu dan  gelas air hangat. Aduk sampai merata dan disaring. Minum secara rutin dua hari sekali. 
     Kedua, menggunakan cengkih. Prosedurnya adalah sebagai berikut : cuci bersih 2 buah pala dan 20 biji cengkih, lalu remas – remas dengan minyak kelapa. Hangatkan semua bahan tersebut kemudian oleskan secara merata di bagian leher. Lakukan dua kali sehari. 
     Ketiga, menggunakan kapulaga. Cara pengolahannya adalah sebagai berikut : tumbuk kasar 10 biji kapulaga, dan 6 gram rimpang kunyit, lalu seduh dengan 100 gram air mendidih. Minum setiap pagi dan sore. Lakukan selama 7 hari berturut turut (5) 

     Ketiga cara diatas adalah sebagian dari cara pengobatan konvensional yang dilakukan menggunakan tanaman herbal, untuk mengobati peradangan pada tonsil atau amandel. Beberapa kelebihan dari obat herbal adalah sebagai berikut :

      Tidak ada efek samping dan bebas toksin
      Obat herbal telah dikonsumsi oleh masyarakat sejak Indonesia berabad abad yang lalu. Belum pernah ditemukan sebelumnya bahwa masyarakat yang mengkonsumsi nya menderita efek samping yang mematikan. Hal ini karena obat herbal berasal alam atau sering dalam tanaman, bukan dari bahan kimia sehingga tidak menimbulkan efek samping. Selain itu obat herbal juga tidak mengandung racun seperti obat kimia. Obat herbal bahkan dapat memberi efek meluruhkan racun dalam tubuh ( detoksifikasi ) (6). [ Penelitian lain mengatakan bahwa terdapat beberapa jenis obat herbal khususnya pada tanaman obat yang memiliki efek yang keras dan berbahaya bagi tubuh. Contohnya adalah umbi gadung, biji saga, daun dan buah kecubung, daun gigil, biji jarak, daun tuba berefek pada susunan syaraf otonom. Selain itu, hasil percobaan toksisitas dan kandungan senyawa kimia mendapatkan hasil bahwa beberapa tanaman diketahui mengandung bahan yang berbahaya. Contohnya adalah Phylanthus sp. : mengandung ester phorbol yang dinyata-kan dapat merangsang virus Epstein-Borr (dalam waktu lama menyebabkan karsinoma) (7) ]

2.       Mudah diproduksi dan dicari.
1.      Proses produksinya sederhana yaitu dengan mengeringkan, menumbuk, dan mengolahnya untuk menjadi obat. Proses sederhana yang berasal dari alam, aman bagi tubuh. Keamanan bagi tubuh itu juga mengakibatkan obat ini mudah untuk ditemukan (6). [ Sumber lain mengatakan bahwa tetap ada standart keamanan dalam proses pengolahan obat herbal yaitu meliputi baik takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu. Tetap dibutuhkan suatu ketelitian karena jika melakukan kesalahan maka efeknya akan merugikan tubuh dan hasil pengobatan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan (8) . Sebuah penelitian lain juga mengatakan bahwa tanaman obat herbal sulit untuk dikenali jenisnya. Sehingga meskipun tanaman telah didapat namun jika belum mengenali jenis dan manfaatnya maka akan mengganggu dalam proses pengolahan dalam pembuatan obat (9) ]

              Menghilangkan akar penyebab penyakit
         Karena sifatnya yang holistik ( menyeluruh ) maka obat herbal dalam proses pengobatannya bekerja tidak saja berfokus untuk menghilangkan penyakit namun juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit sehingga akar penyebab penyakit daat teratasi (6). [ Sumber lain mengatakan bahwa beberapa obat herbal juga mengalami penyalahgunaan dalam praktiknya. Untuk itu ketelitian diperlukan karena jika terjadi hal demikian maka akar penyebab penyakit tidak hilang namun justru bertambah nyata efeknya terhadap tubuh (7) ]
   
            Murah dan multi-khasiat
           Hal ini obat ini tidak memerlukan resep dokter untuk membelinya. Selain itu, tidak perlu harus ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Cukup dengan mengetahui khasiat dari obat herbal tersebut, atau cukup bertanya kepada ahlinya saja. Selain itu obat herbal juga biasanya bisa di gunakan untuk lebih dari satu jenis penyakit. Bahkan satu produk obat herbal bisa mengobati puluhan penyakit (6). [ Mengenai murah dan tidaknya obat herbal tergantung dari bahan dan proses pengolahannya. Jika bahan terbilang langka dan pengolahannya lebih rumit maka tidak menutup kemungkinan harganya pun akan mahal. Mengenai multi khasiat, sumber lain mengatakan bahwa diperlukan ketepatan dalam pemilihan bahan. Satu tanaman obat dapat terbagi menjadi beberapa jenis. Setiap jenis memiliki nilai fungsi pengobatan yang berbeda beda karena itulah harus diperhatikan jenis mana dari satu tanaman obat tersebut yang akan diproses agar tidak terjadi ketimpangan (7) ]


Dari uraian diatas menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Indonesia khususnya para tua meyakini bahwa obat tradisional adalah obat yang aman dan tepat dalam pengobatan berbagai jenis penyakit. Hal ini dikarenakan obat herbal yang dari alam secara umum terkenal tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Hal ini memang tidak salah jika obat herbal diolah sesuai dengan standart keamanannya yaitu adanya ketepatan baik dalam takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu (7) ]

Pengobatan secara modern, pengobatan melalui tindakan operasi tonsilektomi. Operasi tonsilektomi adalah pengangkatan tonsil yang mengalami peradangan. Pengangkatan tonsil dilakukan berdasarkan tingkat kriteria indikasi. Namun beberapa kasus menunjukkan adanya perbedaan tingkat indikasi dalam melakukan operasi tonsilektomi. Perbedaan kriteria tingkat indikasi inilah yang umumnya belum sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu beberapa masyarakat percaya bahwa operasi tonsil adalah cara yang tepat untuk menyembuhkan tonsilitis. Operasi tonsilektomi sendiri terbagi menjadi 2 jenis. Pertama, tonsilektomi cara guillotine. Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Tonsilotom modern atau guillotine dan berbagai modifikasinya merupakan pengembangan dari sebuah alat yang dinamakan uvulotome. Uvulotome merupakan alat yang dirancang untuk memotong uvula yang edematosa atau elongasi. Kedua, tonsilektomi cara  diseksi. Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Kemudian melakukan hemostasis dengan elektokauter atau ikatan. Selanjutnya dilakukan irigasi pada daerah tersebut dengan salin (10)

Menurut suatu penelitian, terdapat beberapa keunggulan atau manfaat dari tonsilektomi. Penilitian menunjukkan bahwa, 

Tonsilektomi menurunkan angka kejadian sakit tenggorok,
Hasil penelitian Paradise et al. menunjukkan angka kejadian sakit atau insiden infeksi sakit tenggorokan di kelompok tonsilektomi lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol ( tidak melakukan tonsilektomi ) selama 3 tahun follow up (11). [ Penelitian lain menunjukkan bahwa adanya kemungkinan terkena bakteremia terhadap pasien pasca operasi tonsilektomi (12). Bakteremia merupakan infeksi sistemik yang berbahaya karena dapat berlanjut menjadi sepsis yang angka kematiannya sangat tinggi. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa bakteremia dapat menginfeksi daerah di sekitar tenggorok dan dapat meningkatkan resiko dan angka kejadian sakit tenggorok ]
    
           Tonsilektomi meningkatkan QOL, 
1.      Penelitian Lianne et al. menunjukkan bahwa hampir 90% anak yang menjalani tonsilektomi mengalami peningkatan QOL setelah pembedahan - 75% perbaikan besar dan 6% perbaikan sedang. Sedangkan pada penelitian Neil et al. menunjukkan bahwa tonsilektomi pada dewasa memberikan perbaikan QOL pasien (11). [ Penelitian lain menunjukkan bahwa pemakaian suatu zat pada proses operasi tonsilektomi dapat mengakibatkan pendarahan (13) Meskipun jarang namun kemungkinan kasus kematian akibat pendarahan tetap ada walau kecil presentasenya. (10) Jika pendarahan terjadi, otomatis dapat mengganggu aktivitas dari pasien. Jika pasien telah merasa terganggu aktivitasnya oleh karena pendarahan, secara tidak langsung hal ini dapat menurunkan QOL ]

      Tonsilektomi menurunkan pemakaian fasilitas kesehatan dan meminimalkan beban ekonomi penderita tonsilitis
      Keuntungan tonsilektomi secara ekonomi diteliti oleh Bhattacharyya et al. menggunakan break even time analysis model pada 83 pasien yang menjalani tonsilektomi karena tonsilitis kronik, menggunakan GBI dan kuesioner untuk menilai sebelum dan setelah tonsilektomi. Dalam 1 tahun terdapat penurunan pemakaian antibiotik, kunjungan pasien ke dokter dan hari kerja yang hilang (11). [Ada kemungkinan bahwa tonsilektomi tidak berpengaruh pada penurunan pemakaian fasilitas kesehatan dan meminimalkan beban ekonomi penderita tonsilitis. Kemungkinan ini dapat terjadi jika pasien justru mengalami komplikasi seperti sakit pada tenggorok, mual dan muntah setelah operasi, tertundanya asupan makan, perdarahan dan perubahan suara serta kematian walaupun jarang terjadi. Pemakaian fasilitas kesehatan justru akan bertambah dan otomatis beban ekonomi penderita tonsilitispun ikut bertambah (10,12,13) ]

Dari uraian diatas, sebagaian masyarakat yang lebih memilih menggunakan teknologi modern atau pengobatan secara tonsilektomi karena beberapa alasan tertentu. Beberapa diantaranya adalah secara umum tonsilektomi dikenal dengan operasi yang ringan dan tidak memerlukan waktu yang lama. Hal ini memang tidak salah jika operasi tonsilektomi dilakukan sesuai dengan standar indikasi yang telah ditentukan dan dilakukan dengan penuh ketelitian. Namun pemahaman akan indikasi ini belum sepenuhnya diterima di masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya kesan di masyarakat bahwa tonsilektomi dapat meningkatkan prestasi anak sehingga banyak orang tua menginginkan tonsilektomi meskipun belum tentu tonsil nya sakit (4).

Setelah melihat pemaparan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa penyakit tonsilitis atau yang kerap disebut amandel dapat diobati melalui dua cara pengobatan. Pengobatan secara konvensional menggunakan obat herbal sedangkan pada pengobatan modern dengan melakukan operasi tonsilektomi. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Namun jika pengobatan dilakukan sesuai dengan standart nya masing masing ( obat herbal dengan standart keamanannya dan tonsilektomi dengan standart indikasi dan keamanannya juga ), maka akan menghasilkan manfaat yang sama. Baik obat herbal dan tonsilektomi bermanfaat dalam menyembuhkan tonsilitis. Mengenai cara mana yang lebih unggul, hal itu tergantung pada persepsi dan keyakinan tiap individu. Tiap individu berhak menentukan cara mana yang ingin ditempuh untuk proses kesembuhannya.




DAFTAR PUSTAKA
1.        Noviyanti D. Studi Kasus Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada An. D dengan Post Tonsilectomy di Ruang Anggrek Rsud Dr Soehadi Prijonegoro Sragen. 2013;
2.        Radhi F. Tonsilitis (Amandel). Public Health. 2012.
3.        Sembiring RO, Porotu’o J, Waworuntu O. Identifikasi Bakteri dan Uji Kepekaan terhadap Antibiotik pada Penderita Tonsilitis di Poliklinik Tht-Kl Blu Rsu. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode November 2012-Januari 2013. 2013;1(November 2012):1053–7.
4.        Suprihati FSS. Hubungan Tonsilitis Kronik dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Kota Semarang. 2005;
5.        Kurniawati N. Sehat & Cantik Alami Berkat: Khasiat Bumbu Dapur. Chaerani R, Yurita Putri A, editors. Qanita; 2010.
6.        Pristiani I. 7 Kelebihan Obat Herbal Alami. Kompas Forum. 2012;
7.        S.Pramono K. Tingkat Manfaat Dan Keamanan Tanaman Obat Dan Obat Tradisional. 2010;
8.        Sari LORK. Pemanfaatan Obat Tradisional Dan Keamanannya. 2006;III(1):1–7.
9.        Zein U. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dalam Upaya Pemeliharaan Kesehatan. 2005;(23):1–7.
10.      Sastroasmoro S. Tonsilektomi pada Anak dan Dewasa. 2004;1–25.
11.      Amarudin T, Christanto A. Kajian Manfaat Tonsilektomi. 2007;34(2).
12.      Siswantoro B. Pengaruh Tonsilektomi terhadap Kejadian Bakteremia Pasca Operasi. 2003.
13.      Meriwijayanti. Evaluasi Efek Analgesi Pemakaian Ketoprofen dan Ketorolak Intravena Pasca Tonsilektomi. 2001.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images